Sri Sultan Bersama 7.000 Lurah dan Pamong Se-DIY Deklarasikan Pesta Demokrasi Damai

28/10/2023 88 view Jogja Kini Panji Arkananta/Cerita Jogja

Yogyakarta - Menyambut pesta demokrasi Pemilu 2024, sebanyak 7.000 Lurah dan Pamong Se-DIY melaksanakan sapa aruh yaitu para Lurah, Pamong Kalurahan, dan masyarakat bersama-sama mendengarkan amanat dan arahan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengenai sikap DIY menjelang pesta demokrasi di komplek Monumen Jogja Kembali (Monjali) pada Sabtu, 28 Oktober 2023.

Para Lurah dan Pamong Kalurahan tergabung dalam Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan DIY (Nayantaka) berkumpul sejak pukul 09.00 WIB dengan mengenakan pakaian Jawa serta mengibarkan bendera merah putih selama acara berlangsung. Dalam pidato yang disampaikan Sri Sultan dihadapan para peserta dan media, beliau menyampaikan bahwa para Lurah dan Pamong memiliki tugas penting dalam masyarakat untuk menjadi kekuatan moral dan mengedepankan akan sehat.

"Saudara-saudaraku sekalian, seiring semangat 'Jogja nyawiji in pesta demokrasi' inilah tugas lurah dan pamong yang tergabung dalam paguyuban lurah dan pamong kelurahan se-Daerah Istimewa Yogyakarta (Nayantaka) untuk menjadi kekuatan moral untuk meredam konflik emosional, mengajak masyarakat, serta memberdayakan jaga warga untuk menjaga pesta demokrasi dengan mengedepankan nalar dan akal sehat. Semua hanya bisa terlaksana apabila lurah dan pamong mengedepankan sikap netral, mengedepankan kondusifitas, dan posisi sosial. "

Selain itu juga, Sri sultan juga mengemukakan bahwa masyarakat menginginkan kemajuan martabat bangsa dan bukan menjadikan pemilu sebagai ajang perebutan kekuasaan semata.

"Harapan saya adalah agar rakyat tidak terkota2 hanya karena berbeda calon dan aspirasi apalagi hujat menghujat dan bermusuhan karena berada kubu dan partai, masyarakat menginginkan kemajuan kemartabatan bangsa bukan menjadikan pemilu sebagai ajang perebutan kekuasaan semata, maka marilah kita serukan kata damai untuk pemilihan serentak ini bagaimana pemilihan serentak lebih dari pola politik pemilu adalah juga oleh budaya untuk meningkatkan mutu demokrasi agar tumbuh subur dan  dan kuat mengakar menjadi budaya rakyat suasana nyaman itu mestinya dibagun layaknya suasana penuh keluarga besar penuh keluarga besar masyarakat yogyakarta yang berbudaya dan berkeadaban mewujudkan pemilihan serentak yang berbudaya untuk mengendalikan konflik sosial agar terhindar dari intrik dan intimidasi, provokasi, pelecehan, ujaran kebencian, berita bohong, politik sara, dan politik uang ataupun pencemaran nama baik. kalau pola ini diikuti niscaya gejolak sosial yang mewarnai proses pemilu di diy dan indonesia dapat diminimalisir dan jika memang demikian adanya maka insya allah pemilihan serentak akan merekatkan posesi sosial dan integrasi kebangsaan seiring ikhtiar segenap komponen bangsa dan rakyatnya membangun peradaban indonesia yang panjang dowo ucapan punjung luhur kawibawane". (Panji Arkananta)