Cerita Mahasiswa UGM yng Masih Bertahan di Yogya

12/04/2020 5 view Jogja Kini Dok. UGM

Yogyakarta - Ada banyak mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang masih bertahan di kos, rumah kontrakan atau asrama ditengah pandemi Covid-19. Mereka saat ini menerima bantuan sembako dari kampus tempat mereka belajar.

Secara bertahap mereka mengambil bantuan itu di posko yang ada di Gelanggang Mahasiswa. Bantuan sembako ini sangat berguna dan membantu mereka saat ini. Karena akses untuk memperoleh bahan makanan sangat terbatas.

Di Posko Gelanggan Mahasiswa, mahasiswa datang silih berganti untu mengambil bantuan. Bantuan ini sudah beberapa kali disalurkan.

Di posko, beberap mahasiswa berpakaian santai dengan masker yang menutupi mulut dan hidungnya. Masing-masing bertugas sesuai arahan yang telah diberikan. Ada yang bertugas untuk menjaga logistik yang akan dibagikan. Ada juga yang bertugas menyemprotkan hand sanitizer, serta ada yang bertugas mendata serta memberikan bantuan tersebut.

Ada salah mahasiswa yang datang yakni Galih Wahyu Setya Anggara. Setelah didaya petugas, ia kemudian menerima bantuan sembako dan kemudian bergegas meninggalkan posko menggunakan sepeda motornya.

Galiha merupakan mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM angkatan 2016. Ia menuturkan satu paket bantuan berisi beras, gula, sarden, kecap, sambal, mi instan, roti kering, vitamin, perlengkapan mandi, dan sabun deterjen. 

"Bersyukur bisa terima bantuan ini yang sangat membantu selama harus belajar di rumah dan social distancing," ungkapnya.

Selama ini kata Galih dirinya bersama adiknya tinggal di daerah Lempuyangan, Kota Yogyakarta. Sedangkan kedua orang tua mereka berada di Kaliurang, Sleman. 

"Kami memutuskan untuk tidak pulang ke rumah karena di sini akses untuk pendidikan kami lebih mudah, utamanya internet untuk pembelajaran daring,” terangnya.

Galih mengungkapkan saat ada pandemi ini, aktivitasnya terbatas. Selain itu berpengaruh pada finansial. Pada semester ini dirinya sudah harus mempersiapkan skripsi. 

Orang tuanya mengaku tidak bisa membantu seluruh biaya untuk skripsi tersebut. Oleh karenanya, ia harus mulai mengumpulkan uang dan kini membuka usaha mandiri, yakni berjualan kurma.

“Saya mulai berjualan kurma untuk biaya skripsi. Saya ambil kurma dari teman, kemudian dijual ke guru, dosen, maupun teman-teman. Namun, karena ada pandemi ini agak tersendat,” ujarnya.

Selama ini ia terbiasa memasak di rumahnya. Ia membeli bahan dari toko dekat rumahnya. Kadang jika bahan makanan habis, terpaksa harus menggunakan jasa layanan antar makanan.

"Beruntung bisa mendapat bantuan ini untuk menghemat biaya membeli bahan di rumah," kataanya.

Galih mengaku sudah dua kali ini mendapat bantuan logistik dari UGM sejak dibuka pada awal April lalu. Menurutnya prosedur tidak susah karena hanya perlu mengisi formulir daring yang disediakan tim di Posko Gelanggang Bergerak. 

"Dua kali mengisi, saya beruntung termasuk salah seorang yang mendapatkan bantuan,” terangnya.

Sementara itu, Iqbal Tuwasikal, Ketua Posko Gelanggang Bergerak periode 2, menyatakan bantuan logistik ini diberikan oleh UGM, yang diinisiasi oleh Direktorat Kemahasiswaan UGM. Bantuan ini ditujukan kepada mahasiswa UGM yang masih berada di Yogya selama masa pandemi ini.

"Ditmawa menyediakan sekitar 850 paket yang diberikan kepada mahasiswa UGM di Yogya yang mulai kesulitan akses logistik. Jumlah tersebut berdasarkan pendataan Ditmawa sebelumnya. Sementara kami dari Gelanggang Bergerak yang bertugas untuk mendistribusikannya, termasuk mendata dan memilah siapa saja yang berhak menerima," kata Iqbal.

Ia menjelaskan sebanyak 850 paket itu diberikan untuk satu minggu. Progam tersebut kini memasuki minggu kedua. 

"Pada minggu pertama kemarin karena tidak berjalan satu minggu penuh, jumlah yang dibagikan hanya berkisar 400-an saja. Untuk minggu ini total yang menerima rencana sebanyak 850 paket,” paparnya.

Menurut Iqbal target bantuan logistik yang diberikan ini adalah untuk 4 minggu atau satu bulan terhitung dari awal April kemarin. Kurun waktu tersebut diputuskan oleh Ditmawa. Sementara untuk Posko Gelanggang Bergerak untuk periode ini akan sampai 14 April mendatang. 

"Posko ini ada karena keberadaan relawannya, baik alumni maupun mahasiswa. Jadi tiap akhir periode, akan kami evaluasi apakah masih sanggup untuk melanjutkannya atau tidak. Jadi keterlibatan kami dalam membantu mendistribusikan juga akan dilihat dari itu juga,” jabarnya.

Iqbal menyebut pendistibusian berjalan lancar. Mereka juga berusaha agar pendistribusian tidak bentrok dengan beberapa fakultas yang secara mandiri juga memberikan bantuan kepada mahasiswa. (ian)