Kisah KA Jogja-Magelang yang Putus Dihantam Lahar Merapi

28/06/2020 69 view Jogja Dulu Bagus Kurniawan/Cerita Jogja

Yogyakarta - Salah satu jalur kereta api legendaris yang dulu pernah adalah jalur Yogyakarta hingga Magelang, Parakan Temanggung, Jawa Tengah. Kemudian ada lagi jalur di wilayah Secang, Grabag Magelang hingga Jambu Kabupaten Semarang dan Ambarawa.

Kereta yang melintasi kawasan itu disebut sepur kluthuk. Ini jadi sebukan lokomotif/kereta uap hingga kereta diesel awal bukan kereta diesel seperti sekarang ini.

Kereta ini jalannya masih pelan dan tiap stasiun kecil pasti berhenti.

Sepur kluthuk Jogja-Magelang ini banyak dikenang warga masyarakat yang pernah menggunakannya dan tinggal tak jauh dari rel KA. Namun jalur KA ini telah hilang sejak tahun 1976-an. 

Kini sudah tidak bisa beroperasi lagi. Jalur sepanjang lebih kurang 50 kilometer hingga Magelang dan disambung ke utara hingga Secang, Parakan Temanggung.

Jalur KA ini putus total saat terjadi banjir lahar Merapi. Tembok pondasi jembatan pits dikedua sisi. Banjir yang menerjang Kali Krasak di perbatasan Tempel, Sleman dan Salam, Kabupaten Magelang itu benar-benar memutus total jaur KA. 

Bahkan jembatan Krasak yang dilewati kendaraan umum juga dipenuhi pasir. Rumah-rumah dipinggir sungai juga hancur dienuhi pasir kiriman Merapi.

Jembatan rel KA yang melintang di tengah sungai tepatnya di sebelah barat jembatan Krasak putus. Jembatan sepanjang 100-an meter rusak.

Waktu itu transportasi bus dan angkutan lainnya juga sempat putus. Jalur transportasi bus harus berantai. 

Dari arah Yogya, angkutan berhenti di dekat Pasar Tempel, kemudian warga berjalan kaki melewati jembatan. Setelah itu disambung angkutan lagi yang menunggu ujung utara wilayah Salam, Magelang dan sebaliknya.

Sisa jembatan KA yang terputus masih bisa terlihat sampai sekarang. Sisa bangunan jembatan, kerangka besi dan rel masih ada. Di sekitar jembatan itu sekarang sudah ada dam dan banyak warga yang memanfaatkannya jadi kolam-kolam ikan.

Setelah putusnya jalur KA Yogyakarta-Magelang PP tidak ada lagi. Dulu jalur KA dari Stasiun Tugu menyusuri ke arah utara lewat kantor Samsat sekarang ini kemudian lewat Jl Tentara Pelajar di sisi barat, perempatan Pingit, Jl Magelang, Mlati, Beran, Pangukan, Medari hingga Tempel. 

Beberapa stasiun yang sudah hilang diantaranya Stasiun Pingit dekat pabrik Margorejo atai dekat Hotel Utara, Stasiun Kutu, Stasiun Mlati, Stasiun Beran dan Medari. Yang masih ada hanya Stasiun Tempel.

Saat ini sebagian besar rel KA sudah dicopoti. Namun d atas jembatan Kali Bedhog Pangukan masih ada. Konstruksi jembatan ini bentuknya sama dengan yang di jembatan Krasak. 

Konstruksi jembatan in sangat khas yakni menggunakan lengkung pada kedua ujung jembatan. Di atas jembatan ini rel dari ujung timur ke barat masih ada. Selebihnya sudah tidak ada lagi. Beberapa tiang besi rel yang berdiri tegak di jalur Beran juga masih ada.

Sisa bangunan lain yakni Stasin Tempel dan tangki air besar di selatan stasiun. Bangunan bekas stasiun saat ini digunakan untuk taman kanak-kanak (TK).

Setelah meintas Kali Krasak, jejak sejarah jalur KA Magelang hanya sedikit terlihat di wilayah Muntilan dan jembatan yang putus sebelum masuk Stasiun Blabak, Stasiun Mertoyudan hingga Stasiu Kebon Polo.

Dulu juga ada KA bernama Kereta Taruna. Kereta ini biasanya juga melayani para taruna Akmil yang hendak melakukan pesiar saat liburan. 

"Namanya sepur kluthuk. Saya pernah naik dari Stasiun Blabak menuju Jogja dan pulang lagi. Waktu lewat jembatan Krasak jalannya pelan sekali," ungkap Putri Abriantini warga Blabak Magelang.

Dwi Kuncoro warga Sleman menambahkan dulu ada stasiun kecil-kecil seperti di utara Pingit, Kutu dan Mlati namun sekarang sudah hilang bangunannya.

"Banyak yang hilang bangunan stasiunnya. Sayang sekali," ungkapnya.

Usai terjadi banjir lahar, Presiden Suharto sempat meninjau ke lokasi. Untuk menahan banjir lahan Merapi yang saat itu mengarah ke barat tu kemudian diputuskan oleh pemerintah dbangunlah dam-dam Merapi di hulu-huu sungai Merapi seperti Kali Krasak, Kali Sat, Kali Senowo dan lain-lain. (Bagus Kurniawan)