Mengembalikan Pariwisata di Masa Pandemi dengan Visiting Jogja

16/10/2020 46 view Jogja Kini Bagus Kurniawan/Cerita Jogja

Yogyakarta - Saat ini saya berdomisili di Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di provinsi yang saya tinggali tersebut, saat ini sudah tersedia layanan-layanan e-government untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dengan memanfaatkan teknologi informasi. Penerapan e-government di DIY sendiri sudah dirintis sejak 2008 oleh Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwono X. E-Government di provinsi ini antara lain meliputi e-budgeting dan money follow program yang keduanya terkait dengan transparansi sistem keuangan. Namun saya tidak akan membahas kedua program tersebut, melainkan program atau platform digital yang dirilis belum lama ini, yaitu Visiting Jogja.

Aplikasi itu sendiri diluncurkan pada akhir Juli 2020 lalu di tengah-tengah pandemi Covid-19 yang sedang berkecamuk. DIY sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia turut merasakan dampaknya. Kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, merosot drastis sejak pandemi merebak pada Maret 2020 silam. Perekonomian daerah yang salah satunya bergantung kepada sektor pariwisata langsung terguncang. Destinasi-destinasi wisata, hotel, dan usaha-usaha pendukungnya mau tidak mau menutup operasional untuk mencegah terjadinya kontak fisik dan kerumunan. Hal tersebut menimbulkan efek domino. Banyak tempat usaha yang bergerak di sektor pariwisata memilih merumahkan dan bahkan memutus kontrak karyawannya karena minim pemasukan selama empat bulan masa pandemi. Akibatnya, angka pengangguran menukik dan tindak kriminal meningkat. Setali tiga uang, pemerintah daerah juga kehilangan banyak potensi pemasukan pajak dari sektor pariwisata.

Atas dasar itu, Pemda DIY mengambil tindakan agar situasi itu tidak berlarut-larut. Sejak pemerintah pusat menggulirkan jargon “New Normal”, Pemda DIY turut menggagas konsep yang memungkinkan aspek kesehatan dan ekonomi, terutama dalam hal ini pariwisata, dapat berjalan beriringan. Ekonomi dapat berjalan kembali sehingga diharapkan dapat pulih perlahan-lahan, tetapi tetap dengan protokol kesehatan ketat sehingga tidak menyebabkan penyebaran virus corona. Untuk mengakomodasi konsep tersebut, pihak pemda melalui Dinas Pariwisata DIY membuat inovasi berbasis digital bernama Visiting Jogja.

Platform yang dapat diunduh secara gratis di PlayStore itu memuat berbagai macam informasi seputar pariwisata di DIY, seperti daftar destinasi wisata beserta peta lokasi, penjelasan singkat tentang tempat tersebut, sarana akomodasi, kuliner, dan lokasi sentra oleh-oleh. Di samping memberi informasi-informasi tersebut, aplikasi ini juga berguna untuk melakukan reservasi tiket destinasi-destinasi wisata secara online bagi wisatawan yang ingin berkunjung. Dengan demikian, transaksi dapat dilakukan tidak dengan kontak fisik sehingga meminimalkan risiko penyebaran Covid-19.

Selain itu, pengguna juga bisa mengetahui keterisian kuota destinasi wisata yang ingin dikunjungi. Dalam masa “New Normal” seperti sekarang, kuota setiap destinasi dibatasi dari masa normal sebelum pandemi untuk menghindari penumpukan orang dalam satu waktu. Jika kuota sebuah destinasi sudah penuh, maka menu Reservasi Tiket di aplikasi tidak dapat ditekan yang artinya wisatawan harus menunggu selama beberapa waktu agar menu itu dapat kembali diakses atau mencari destinasi lain yang masih tersedia kuota pengunjungnya.

Menurut saya, inovasi platform digital Visiting Jogja ini cukup membantu industri pariwisata di DIY untuk bangkit di tengah hantaman pandemi, tetapi tetap memperhatikan aspek kesehatan. Hal itu salah satunya dapat dibuktikan dengan fungsi pelacakan dari aplikasi ini. Setiap pengguna diwajibkan membuat akun sebelum mengakses aplikasi lebih jauh. Saat membuat akun itulah, langsung tercatat data pengguna aplikasi, terutama asal daerahnya. Sehingga saat ada kasus kluster Covid-19 di suatu destinasi, hotel, dan tempat-tempat lain yang berhubungan dengan sektor pariwisata, dapat lebih mudah melakukan pelacakan untuk dilakukan rapid test atau swab test sehingga meminimalisir meluasnya virus Corona di wilayah Yogyakarta dan wilayah lain.

Sejauh ini respons publik terhadap keberadaan aplikasi ini cukup baik. Terbukti dengan Dinas Pariwisata DIY yang mampu memetakan daerah asal wisatawan yang berkunjung ke destinasi-destinasi wisata di DIY saat masa “New Normal” pandemi Covid-19 ini dengan wisatawan asal DIY sendiri tetap menempati peringkat pertama. Sementara dari data di PlayStore, aplikasi ini sudah diunduh kurang lebih 10 ribu pengguna yang artinya sudah ada sekitar 10 ribu wisatawan yang berkunjung. Namun saya masih ragu jumlah itu sesuai dengan realita di lapangan mengingat saat ada long weekend beberapa waktu lalu, destinasi-destinasi wisata di DIY hampir selalu penuh setiap waktu walau masih dalam masa pandemi. Beberapa ruas jalan protokol di Yogyakarta juga padat kendaraan, baik plat lokal maupun luar.

Artinya jumlah pengunjung di lapangan kemungkinan lebih banyak dibanding angka yang tertera di aplikasi. Memang penulis belum mendapat data pasti jumlah wisatawan yang berkunjung ke DIY dalam masa pandemi seperti sekarang. Namun dengan keadaan seperti itu, saya malah mengkhawatirkan penerapan protokol kesehatan di lapangan. Jika jumlah kenyataan di lapangan berbeda jauh dengan angka di PlayStore, dikhawatirkan banyak wisatawan yang tidak terdeteksi pihak terkait. Artinya jika suatu waktu ada kasus kluster Covid-19 di destinasi wisata, tidak semua akan terlacak sehingga potensi penyebaran virus semakin tinggi. Bisa jadi pemerintah daerah belum optimal mengenalkan dan menyosialisasikan keberadaan aplikasi ini ke daerah-daerah lain di Indonesia mengingat wisatawan yang berkunjung ke DIY berasal dari berbagai daerah di penjuru Tanah Air. Semoga ke depannya hal tersebut dapat lebih digencarkan, bahkan nanti saat pandemi sudah menemui ujung sehingga bisa menjadi sarana evaluasi berbasis data digital bagi dunia pariwisata DIY.  

Dionisius Sandytama Oktavian /Program Magister Ilmu Komunikasi UAJY