Fakta Menarik Tugu Jogja, Simbol Kebesaran Yogyakarta

18/08/2023 136 view Jogja Dulu Panji Arkananta/Cerita Jogja

Yogyakarta - Sebagai salah satu icon utama dari kota Yogyakarta, Tugu Jogja atau Tugu Pal Putih memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan dan masyarakat Kota Yogyakarta. Tugu memiliki nilai spiritual  sebagai salah satu bagian dari Sumbu Filosfi, Tugu Golong Gilig melambangkan keberadaan sultan dalam melaksanakan proses kehidupannya. Hal ini ditunjukkan dengan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa secara tulus yang disertai satu tekad menuju kesejahteraan rakyat (golong-gilig) dan didasari hati yang suci (warna putih). Pada awal berdirinya, Tugu memiliki naman Golong Gilig namum kini masyarakat sering menyebutnya sebagai Tugu Pal Putih. Dinamakan demikian dikarenakan keseluruhan dari Tugu dicat berwana putih yang melambangkan hati yang suci.

Dibangun pada tahun 1755 oleh Sri Sultan Hamangku Buwono I yang juga pendiri dari Keraton Yogyakarta. Pada awalnya, Tugu memiliki bentuk silinder yang menggkerucut ke atas, bagian dasarnya berupa pagar yang melingkar, dan bagian puncaknya berbentuk bulat dan dengan tinggi 25 meter. Hal ini jauh berbeda dengan kondisi Tugu sekarang yang berbentuk balok yang kemudian mengkrucut ke atas dengan puncak berbentuk untiran berwana emas, dan juga terdapat ornamen tulisan jawa pada keempat sisinya.

Perubahan bentuk Tugu yang siknifikan ini disebabkan karena adanya gempa pada 10 Juni 1867 yang  mengguncang Yogyakarta. Gempa ini mengakibatkan Tugu runtuh dan kemudian pada tahun 1889 pemerintahan Belanda merenovasi total bangunan Tugu hingga menjadi bentuk yang kini kita lihat. Renovasi yang dilakukan oleh pemerintahan Belanda meliputi;

perubahan bentuk Tugu dari awalnya;

bagian Tugu tidak lagi bulat  melainkan kerucut yang meruncing;

tinggi Tugu turun menjadi 15 meter yang sebelumnya 25 meter;

setiap sisi dihiasi prasasti sebagai tanda yang menunjukan siapa saja yang terlibat dalam renovasi tersebut;

sejak renovasi itu, Tugu disebut  De White Paal  atau Tugu Pal Putih.

Perubahan tugu oleh Belanda merupaka taktik untuk mengikis persatuan antara rakyat dengan Raja. Namun taktik ini tidak berhasil dikarenakan perjuangan rakyat dan Raja di Yogyakarta dalam melawan Belanda seteleh itu semakin meningkat. (Panji Arkananta)