Pasar Klithikan di Yogyakarta

11/05/2020 18 view Jogja Dulu Bagus Kurniawan/Cerita Jogja

Yogyakarta - Sejarah Pasar Klithikan di Yogyakarta yang masih bisa terlacak diperkirakan muncul sudah sejak lama. Namun tahun pastinya tidak banyak yang tahu.

Namun berdasarkan pengalaman dan wawancara penulis dengan berbagai nara sumber, pasar klithikan di Yogyakartasudah ada sejak tahun 1960-an.

Mengapa dinamakan "Klithikan"? Klithikan berasal dari kata "klithik" sesuatu barang yang kecil bentuknya. Kalau barang itu jatuh menimbulkan suara "klithik". 

Karena yang dijual berbagai barang bekas yang kecil bukan besar secara ukuran kemudian dinamakan "klithikan". Barang-barang klithikan bisa berupa sekrup, mur baut, paku. Kemudian ada perlatan bengkel misal kuncil pas, tang, tanggem, gembok, anak kunci dan lain-lain.

Di mana pasar klithikan pertama kali muncul. Berdasarkan penulusuran, pasar klithikan atau barang bekas pertama kali ada di Pasar Beringharjo. Tepatnya utara pasar yang tembus hingga kawasan kemasan Ketandan.

Dulu sebelum pasar Beringharjo terbakar tahun 1980-an dan kemudian di bangun seperti sekarang ini. Di temat itu hingga ke belakang adalah pusatnya barang klithikan. Pedagang sebagian besar hanya menggunakan kotak untuk menyimpan berbagai barang dan menempel di pinggir ruas gang itu.

Kalau saat ini pasar klithikan di Beringharjo menempati los bagian belakang dan sebagian lantai atas. Dulu sebelm ada banyak sepeda motor, berbagai baran-barang bekas dan kecil yang dijual. Namun sekarang sudah berubah sebagian besar adalah ondrdil sepeda motor dan mobil.

Pasar klthikan di tahun 1980-an beberapa diantaranya di Jl KH Ahmad Dahlan tepatnya di depan eks Kantor Balai Kota Yogyakarta atau gedung Punokawan sekarang ini. Para pedagang klithikan menggelar dagangnya sejak pagi hingga sore hari. Barang-barang dijual hampir sama diantaranya onderdil sepeda dan barang-barang bekas lainnya.

Sedangkan kalau malam hari ada di Jl Tamasari tepat di sebelah barat perempatan Tamansari hingga jembatan Kali Winongo atau Soto Pak Marto.

Pasar klithikan Tamansari ini buka tiap sore hingga malam hari sekitar pukul 21.00. Barang-barang yang dijual juga hampir sama berbagai peralatan, onderdil sepeda, sepeda motor dan lain-lain. 

Pasar klithikan Tamansari dulu bisa hidup karena di sekitar perempatan Tamansari juga merupakan pusat kuliner atau warung yanh menjajakan aneka makana di sore hari. 

Namun hingga akhir tahun 1990-an keberadaannya mulai redup dan kemudian pelan-pelan hilang.

Di awal tahun 1990-2000-an, pasar klithikan berpindah dan mulai muncul pasar klithikan di kawasan Asem Gede Kranggan, Jetis dan Jl Mangkubumi Yogyakarta di sisi barat. 

Pasar klithikan di Ase Gede Tempat ini ramai sejak pagi hingga siang hari. Pada malam harinya pasar klithikan berpindah di Jl Mangkubumi.

Berbarengan dengan dua pasar klithikan Asem Gede dan Mangkubumi di kawasan selatan muncul pasar klithikan di seputaran Alun-alun selatan. Mereka ini awalnya adalah pedagang klithikan di sebelah utara Plengkung Gading yang ada di sisi timur. Karena mulai ramai kemudian pedagang pindah ke Alun-alun selatan.

Tiga tempat ini, oleh Wali Kota Herr Zudianto kemudian direlokasi menuju Pasar Kuncen yang sebelumnya adalah pasar hewan ternak (sapi, kambing, kerbau).

Pasar hewan Kuncen kemudian direlokasi k Pasar Hewan Ambarketawang Sleman. Sedangkan pedagang pasar klithikan baik di Asem Gede, Mangkubumi dal Alun-alun selatan berpindah ke Pasar Kuncen. (Bagus Kurniawan)