Cerita Jogja Dulu, Pak Abu Brondong

14/05/2020 299 view Jogja Dulu Bagus Kurniawan/Cerita Jogja

Yogyakarta - Jauh sebelum ada istilah Pop Corn atau brondong jagung, di Yogyakarta sekitar tahun 1970-1980 ada penjual Brondong Jagung. Brondong jagung dijual keliling di acara keramaian.

Namanya Pak Abu. Orangnya nyentrik. Tubuhnya agak tinggi, kurus. Dia menjual brondong dengan membawa kemana saja alat pembuatnya dan becak untuk mengangkutnya. Ia tinggal di Kampung Wirobrajan Kota Yogyakarta.

Ia jualan brondong di sekitar wilayah Yogyakarta bagian selatan dan barat. Sampai sekarang banyak yang masih ingat cara berjualan Pak Abu yang nyentrik dan selalu membuat anak-anak datang mengerubunginya. Ia biasa berjualan di dekat Sekolah Dasar seperti sekitar Lapangan Minggiran ada SD Suryodiningratan dan SD MInggiran (dulu SD Inpres). SD Tamansari di Wirobrajan, SD Keputran, SD Sonosewu dll. Bila ada keramain seperti Alun-aun Utara, Alun-alun Selatan setiap ada pertunjukkan wayang kulit ia selalu jualan.

Dulu makanan camilan brondong hanya dijumpai setiap Pasar Malam Sekaten. Kalau di Sekaten dulu juga banyak pedagang yang menjual brondong baik terbuat dari jagung dan beras. Warna merah dan putih. Namun sekaang penjual brondong di Sekaten juga sudah sedikit jumlahnya.

Bagi warga Yogya, nama Pak Abu Brondong dulu sangat terkenal. Dengan alat yang dibaanya ia memasak langsung brondong ditempat. Kadang ia ditemani seorang asisten yang bertugas mengawasi saat alat panggang diputar diatas kompor.

Sambil menunggu brondong masak, Pak Abu juga melontarkan guyonan-guyonan pada pengunjung yang mengelilinginya. Sesekali ia menunjukan otot lengannya. Otot yang menyembul dilengan, ia tunjukkan bila badanya kuat.

Bila brondong sudah masak dan sudah berkembang, ditandai dengan letusan dari alat panggang. Setelah itu ia menaruhnya di atas tempat wadah yang besar.

Guyonan dia yang selalu terkenang itu. Ia selalu mengingatkan orang disekitar bila alatnya akan meletus sebagai tanda brondong jagung telah matang dan mengembang. "Awas Puterane (bukan anaknya tapi alat panggang yang berputar) Pak Abu arep njebluk. Anak-anak yang mengelilinginya kemudian mundur sedikit, kadang kala ada yang menutup teliganya.

"Duaaaar" begitu bunyinya. Beberapa jagung yang masak setelah dibuka ada yang keluar terjatuh ditanah. Pak Abu tak marah biala ada anak-anak yang memungutinya.

Setelah kemudian membungkus dengan membuat conthong dari kertas bekas. Kertas pembungkusnya juga berupa kertas bekas dari buku tulis yang sudah tak terpakai. 

Buku-buku atau kertas bekas ia ambil dari becak yang ada di dekatnya. Setelah menyobek lembar demi lembar, Pak Abu membuat conthong dan kemudian diisi brondong.

Harganya murah saat itu, 1 conthong seharga Rp 10,00. Rasanya ada yang gurih dan ada yang manis. Rasa brondong manis oleh ak Abu dibuat dari cairan air gula yang kemudian disemprotkan di atas tumukan brondong yang masih hangat.

Mau tahu semprotan air gula yang digunakan Pak Abu? Itu semprotan obat nyamuk kecil yang diisi air gula. Rasanya manis dan gurih.

Kini zaman berganti, Pak Abu sudah tidak ada yang menggantinya. Tak ada yang tahu kapan dia meninggal. Tapi bagi orang-orang Yogyakarta di zaman dulu naa Pak Abu Brondong sangat legendaris.

Brondong jagung tradisional hanya kita jumpai di Alun-alun Utara tiap Sekaten. Itu pun jumlahnya semakin sedikit.

Brondong jagung sudah berganti nama dengan Pop Corn yang dijual di toko/swalayan. Namanya juga berganti bukan brondong lagi tapi Pop Corn. (Bagus Kurniawan)