Warga Tumpah Ruah, Sultan Ancam Tutup Malioboro

10/06/2020 48 view Jogja Kini Bagus Kurniawan/Cerita Jogja

Yogyakarta - Selama 2 hari, Sabtu dan Minggu, 6-7 Juni 2020 kawasan Tugu, Malioboro hingga titik nol kilometer dipenuhi para pesepeda.

Warga menggunakan sepeda itu tumpah ruah di kawasan itu. Kawasan yang ramai dengan warga juga terlihat di sekitar Alun-alun Utara.

Mereka berkumpul dan duduk bergerombol. Ada yang menggunakan masker. Namun ada yang tidak menggunakan masker atau mengabaikan protokol kesehatan seperti tidak menjaga jarak saat duduk.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono ke sepuluh, mengancam akan melakukan penutupan kawasan wisata Malioboro.

Hal tersebut lantaran sebuah video viral yang menunjukkan banyaknya pesepeda yang memadati kawasan Malioboro, tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X merasa geram melihat hal itu. Sultan menganggap masyarakat tidak menaati aturan dan protokol Covid-19.

Sultan mengaku melihat langsung aktivitas itu tanpa mematuhi protokol kesehatan yang telah ditentukan. Sultan pun kemudian meminta Sekda DIY, Baskara Aji dan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi untuk mengatasinya. 

Sultan juga mengancam akan menutup kawasan itu jika warga tak menaati aturan tersebut. Sultan khawatir, kerumuman orang dalam jumlah banyak bisa memicu kembali munculnya penyebaran Virus Corona di Yogyakarta.

"Bagimanapun harus tetap memakai masker, soalnya kalau terjadi sesuatu di Malioboro nanti tracing-nya rekasa (sulit). Apalagi mungkin mereka ada yang dari luar daerah, kan jadi susah," tegas Sultan.

Ia mengatakan jika masih terdapat warga masyarakat yang kumpul-kumpul di kawasan Malioboro dan Titik Nol Kilometer tanpa menerapkan protokol kesehatan secara tegas akan dibubarkan.

Sebab, jika tidak menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker dan physical distancing, risikonya terlalu besar.

Sultan meminta kesadaran masyarakat untuk tetap mematuhi protokol kesehatan agar jangan sampai ada gelombang kedua Covid-19 di DIY.

"Jangan sampai saya closed (tutup), jangan sampai terjadi Covid kedua, itu harus kita hindari. Jadi saya minta kesadaran mereka," pungkas Sultan.

Secara terpisah, Ketua DPRD DIY Nuryadi meminta kepada pemda DIY untuk segera menyelesaikan Standar Operasional Procedure (SOP) New Normal untuk seluruh sektor agar bisa jadi pedoman seluruh pemangku kepentingan di DIY. 

"Kami mendorong eksekutif untuk segera menyelesaian SOP seluruh sektor agar bisa dipedomani seluruh pemangku kepentingan di DIY," tegas Nuryadi. 

Nuryadi mengatakan, hal ini disampaikan karena merespon euforia warga DIY pada hari sabtu (6/6/2020) dan Minggu (7/6/2020) yang beraktifitas di kawasan Malioboro, Tugu dan Titik Nol. Di kawasan itu dipenuhi ribuan pesepeda yang tidak mengindahkan protokol kesehatan, banyak yang tidak mengenakan masker dan banyak kerumunan yang rawan menjadi tempat penyebaran virus corona.

"Kami melihat video di medsos mengenai aktifitas warga DIY dalam menyambut new normal di seumlah titik di tempat - tempat umum di Yogyakarta seperti di Titik Nol, Tugu dan Malioboro yang terkesan kebablasan karena seolah menganggap virus corona sudah tidak ada. Ini berbahaya bisa menjadi pusat penyebaran covid 19," ujar Nuryadi yang juga ketua DPD PDIP DIY

Ia menegaskan DIY masih dalam masa tanggap darurat hingga akhir juni 2020. Oleh karena itulah diharapkan warga DIY sadar dan tertib menjalankan protap kesehatan untuk mencegah penyebaran covid 19.

"Kami mengharapkan agar seluruh warga DIY dapat memenuhi protokol kesehatan. Diantaranya kalau keluar rumah pakai masker, selalu cuci tangan pakai sabun, bawa handsanitazer, jaga jarak  hindari kerumuman dan lain lain," ungkap Nuryadi.

Meskipun dalam beberapa hari lalu di DIY tidak terjadi penambahan pasien positif covid 19 atau zero namun Nuryadi meminta warga masyarakat jangan sampai lengah. Terbukti kemarin masih ada penambahan pasien positif akibat interaksi dengan pihak luar di tempat umum.

"Oleh karena itulah kami mendesak eksekutif untuk segera menyelesaikan SOP new Normal sebagai panduan. Selain itu yang dibutuhkan berikutnya adalah sosialisasi, edukasi dan contoh dari para pemimpin sangat dibutuhkan rakyat. Pokoknya kita semua harus tetap eling lan waspodo," pungkas Nuryadi. (ian)